Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Agustus 2019

Kisah Semut dan Belalang


Semut dan belalang
Semut dan belalang

Di tengah hutan, hiduplah seekor semut yang sangat rajin. Setiap hari semut kecil ini selalu bekerja mengumpulkan makanan dan menyimpannya di dalam lumbung. Teriknya matahari dan derasnya air hujan tidak menyurutkan semangat sang semut untuk mengumpulkan makanan. Dengan bersusah payah, sang semut bekerja keras untuk membawa makanan yang dikumpulkan dan disimpan di dalam lumbung rumahnya.

Pada suatu hari ketika sang semut sedang bekerja, ia bertemu dengan seekor belalang yang sedang asyik berjemur sambil bermalas-malasan. 

"Hai Mut, kamu sedang apa?", tanya belalang.

"Aku sedang mengumpulkan makanan untuk persiapan musim dingin", jawab semut. 

"Ah, buat apa kamu melakukannya sekarang, musim dingin masih lama, lebih baik kita bermalas-malasan dahulu", kata belalang lagi.

Sang semut tidak memperdulikan belalang itu. Dia tetap saja bekerja mengumpulkan makanan yang dijumpainya. Demikianlah sepanjang hari sang semut sibuk bekerja, sementara sang belalang bermalas-malasan.

Akhirnya musim dingin pun tiba. Sang semut yang rajin itu duduk dengan nyaman di dalam rumahnya yang hangat sambil menikmati makanannya yang berlimpah. Sementara itu belalang termenung sedih di rumahnya, karena ia tidak memiliki makanan sedikit pun. Saat belalang itu hampir mati kelaparan, sang semut datang dan memberinya makanan. Sejak saat itu sang belalang akhirnya menjadi rajin bekerja mengumpulkan makanan, seperti sang semut. 

Rabu, 06 September 2017

Bulan Purnama



Seorang ibu bercerita kepada anaknya tentang bulan, "Anakku, di malam hari ada makhluk yang sangat menyeramkan, dia bulat seperti mata raksasa yang melotot".

Sementara ibu lainnya juga menceritakan tentang bulan kepada anaknya, namun berbeda dengan ibu pertama, katanya, "Anakku, di malam hari ada makhluk yang sangat indah. Dia bulat besar mengeluarkan cahaya yang menerangi bumi".

Pada suatu malam purnama kedua anak itu bermain di luar rumah dan muncullah bulan. Anak pertama lari tunggang langgang karena ketakutan sementara anak kedua berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Kisah Pengembara dan Tengkorak Yang Berbicara


Alkisah, ada seorang pengembara yang suka banyak bicara. Suatu hari, ia menempuh perjalanan yang mengharuskannya melewati sebuah hutan belantara yang jarang sekali diinjak manusia. Ketika sampai di tengah-tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara orang berbicara. Pengembara itu merasa takut, tetapi juga penasaran:

"Suara siapakah itu, di tengah-tengah hutan yang sepi begini?" bisiknya dalam hati. Lalu, dengan hati-hati ia mencari asal suara tadi. Akhirnya ia menemukan jawabannya. Suara tadi berasal dari tengkorak manusia yang ada di bawah pohon besar. Alangkah terkejutnya ia.

Dengan rasa tidak percaya, ia memberanikan dirinya mendekat dan bertanya, "Hai tengkorak, bagaimana kamu bisa sampai di tengah-tengah hutan belantara ini?"

Di luar dugaan, si tengkorak itu bisa mendengar dan menjawab pertanyaannya, "Hai pengembara! Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara," jawab si tengkorak. 

Mengetahui tengkorak bisa mendengar dan berbicara, si pengembara pun jadi sangat terhibur dan terus mengobrol tentang segala hal yang menarik hatinya. Ia merasa menemukan pengalaman yang benar-benar aneh dan sangat menakjubkan.

Saat keluar dari hutan, si pengembara terus teringat dengan kejadian aneh yang dialaminya. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang tengkorak yang bisa bicara kepada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang mau percaya. Malah ada yang mencemooh ceritanya, "Dasar bodoh! Mana ada tengkorak yang bisa bicara!". Namun, biarpun tidak ada yang mau percaya dengan ceritanya, pengembara itu tetap saja bercerita kepada banyak orang lainnya.

Akhirnya, cerita tengkorak yang bisa berbicara itu pun terdengar sampai ke istana. Singkat cerita, baginda raja tertarik dan kemudian mengundang pengembara itu ke istana. Kembali, si pengembara menceritakan pengalamannya dengan bangga:

"Baginda, hamba bertemu tengkorak yang bisa bicara. Mungkin baginda bisa menanyakan tentang masa depan kerajaan ini kepada tengkorak itu," bujuk si pengembara. 

Karena rasa ingin tahu, raja pun mengajak para pengawalnya dan meminta si pengembara menunjukkan jalan ke hutan di mana tengkorak itu berada.

Setibanya di sana, pengembara dengan begitu percaya diri langsung bertanya kepada si tengkorak, "Hai tengkorak, bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?"

Kali ini, tengkorak itu diam membisu. Raja dan para pengawal tampak tidak sabar menunggu. Ketika pengembara itu mengulang pertanyaannya beberapa kali dengan suara lebih keras, tengkorak itu tetap diam membisu. Yang terdengar hanya desau angin dan gaung suara si pengembara.

Melihat hal itu, para pengawal menatap raja dengan pandangan geli. Merasa telah diperdayai, sang raja menjadi murka. Ia memandang marah si pengembara:

"Sebenarnya aku tidak percaya omonganmu. Apakah kamu mengira bahwa aku ini raja yang bodoh? Sebenarnya, aku datang ke sini untuk membongkar kebohonganmu. Kamu harus dihukum atas hal ini!"

Sang raja pun langsung memerintahkan hukuman mati untuk si pengembara. Setelah itu, jenazah si pengembara ditinggalkan di sana. Kepalanya diletakkan di samping tengkorak tadi.

Begitu raja dan para pengawalnya pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba si tengkorak bersuara. "Hai Pengembara! Bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?"

Dan kepala si pengembara pun menjawab, "Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara."

Selasa, 05 September 2017

Tafsir Mimpi Sang Raja


Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang raja bermimpi gigi-giginya patah semua. Maka didatangkanlah seorang ahli tafsir mimpi. Setelah sang raja menceritakan mimpinya, si ahli tafsir mimpi bertanya, "Apakah paduka yakin dengan mimpi itu.?"

"ya, saya yakin.", jawab Sang raja.

"La haula wala quwwata illa billah, mimpi paduka itu berarti semua keluarga paduka akan meninggal dihadapan paduka.", ahli tafsir mimpi itu menjelaskan arti mimpi sang raja.

"APAAAAAA?", Muka sang raja seketika berubah merah padam, ia teramat sangat marah mendengar ucapan pria penafsir mimpi itu.

"Pasukaaan!!!..... jebloskan orang ini kepenjara.", perintah sang raja pada para pengawalnya.

pria penafsir mimpi itu pun akhirnya dijebloskan ke dalam penjara.

Keesokan harinya, datanglah seorang ahli tafsir mimpi kedua. Singkat cerita dia pun dimasukkan ke penjara karena ucapannya sama dengan yang pertama.

keesokan harinya lagi tibalah penafsir mimpi ketiga. Setelah raja menceritakan mimpinya, maka pria tersebut berkata, "benarkah paduka bermimpi seperti itu?"

"iya.", jawab sang raja.

"Sungguh paduka ini diberkahi.", penafsir mimpi ketiga ini mulai menjelaskan arti mimpi sang raja.

"kenapa?" tanya raja.

Pria penafsir mimpi tersenyum lalu berkata, "karena mimpi itu berarti umur paduka jauh lebih panjang ketimbang saudara-saudara paduka yang lain."

Mendengar penjelasan ahli tafsir mimpi yang ketiga ini sang raja tersenyum dan memerintahkan agar pria penafsir mimpi itu diberi hadiah yang berlimpah. Sebenarnya jika dikatakan bahwa sang raja umurnya lebih panjang daripada saudara-saudaranya, bukankah itu juga berarti saudara-saudara raja akan meninggal sebelum sang raja? Cara memang seringkali lebih menentukan daripada isi.

Minggu, 03 September 2017

Kisah Pria dan Sepotong Roti


Dikisahkan ada seorang wanita yang membuat roti untuk makanan keluarganya setiap hari. Setiap harinya, wanita ini membuat roti ekstra untuk diberikannya pada orang lain yang kebetulan melewati rumahnya. Dia meletakkan roti itu pada jendela rumahnya untuk siapa saja yang ingin mengambil roti tersebut.

Setiap hari, ada orang yang sudah bungkuk datang dan mengambil roti itu. Tetapi, bukannya mengucapkan terima kasih dan menunjukkan keramahan, pria itu malah menggerutu sejumlah kata yang selalu dia ucapkan setiap hari. Beginilah kira-kira ucapannya: "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Hal ini berlangsung secara terus-menerus, hari demi hari. Pria bungkuk itu selalu datang dan mengambil roti seraya mengatakan sesuatu dengan mengucapkan, "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu". Wanita itu merasa sebal dengannya, "Bukannya berterima kasih..," katanya dalam hati.

''Setiap hari pria itu mengatakan hal yang sama, apa maksudnya?'', pikir wanita itu. Suatu hari, tiba-tiba dia memiliki keinginan untuk menyingkirkan pria bungkuk itu. Dia berniat membuat roti dengan racun di dalamnya. Tetapi, ketika akan meletakkannya pada jendela, dia gemetar dan tersadar, "Apa yang telah aku lakukan?" katanya. Roti itu akhirnya dibakarnya habis dan dia menggantinya dengan roti biasa. Seperti hari-hari sebelumnya, pria itu datang lagi dan tetap mengatakan hal yang sama, tidak menyadari peperangan batin dalam wanita itu.

Diceritakan bahwa wanita itu memiliki seorang putra yang pergi merantau jauh dari tempat tinggalnya. Sudah berbulan-bulan dirinya tak mendapatkan kabar tentang keberadaan putranya itu. Wanita ini terus berdoa agar putranya diberi keselamatan dan dapat kembali padanya.

Malam itu, pintu rumahnya diketuk dari luar, wanita itu pun membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat sang anak berdiri dihadapannya. Anaknya itu terlihat sangat kurus dan lemah, rupanya dia kelaparan.

Sang anak menatap ibunya dan berkata, "Ibu, ini keajaiban. Ketika aku masih jauh dari sini, aku kelelahan dan pingsan. Aku mungkin akan mati kelaparan, tetapi pada saat itu ada orang bungkuk datang melintas dan memberiku sebuah roti," ungkap sang anak. Pria itu berkata, "Ini yang aku makan setiap hari. Hari ini aku harus memberikannya padamu karena kamu lebih membutuhkannya daripada aku".

Kemudian seketika wajah ibunya memucat dan tersandar di tembok. Dia teringat akan roti beracun yang hampir saja dia berikan pada orang bungkuk itu pagi tadi. Andai saja dia memberikannya pada orang bungkuk itu, tentu anaknya lah yang akan dia racuni dengan tangannya sendiri. Akhirnya dia menyadari arti kata yang selalu diucapkan pria bungkuk itu, "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Rabu, 30 Agustus 2017

Diam di saat yang tepat


Dikisahkan bahwa ada seorang lelaki miskin yang mencari nafkahnya hanya dengan mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya di pasar. Hasil yang ia dapatkan hanya cukup untuk makan. Bahkan, kadang-kadang tak mencukupi kebutuhannya. Tetapi, ia terkenal sebagai orang yang sabar.

Pada suatu hari, seperti biasanya dia pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Setelah cukup lama dia berhasil mengumpulkan sepikul besar kayu bakar. Ia lalu memikulnya di pundaknya sambil berjalan menuju pasar. Setibanya di pasar ternyata orang-orang sangat ramai dan agak berdesakan. Karena khawatir orang-orang akan terkena ujung kayu yang agak runcing, ia lalu berteriak, “Minggir… minggir! kayu bakar mau lewat!.”

Orang-orang pada minggir memberinya jalan dan agar mereka tidak terkena ujung kayu. Sementara, ia terus berteriak mengingatkan orang. Tiba-tiba lewat seorang bangsawan kaya raya di hadapannya tanpa mempedulikan peringatannya. Kontan saja ia kaget sehingga tak sempat menghindarinya. Akibatnya, ujung kayu bakarnya itu tersangkut di baju bangsawan itu dan merobeknya. Bangsawan itu langsung marah-marah kepadanya, dan tak menghiraukan keadaan si penjual kayu bakar itu. Tak puas dengan itu, ia kemudian menyeret lelaki itu ke hadapan hakim. Ia ingin menuntut ganti rugi atas kerusakan bajunya.

Sesampainya di hadapan hakim, orang kaya itu lalu menceritakan kejadiannya serta maksud kedatangannya menghadap dengan si lelaki itu. Hakim itu lalu berkata, “Mungkin ia tidak sengaja.” Bangsawan itu membantah. Sementara si lelaki itu diam saja seribu bahasa. Setelah mengajukan beberapa kemungkinan yang selalu dibantah oleh bangsawan itu, akhirnya hakim mengajukan pertanyaan kepada lelaki tukang kayu bakar itu. Namun, setiap kali hakim itu bertanya, ia tak menjawab sama sekali, ia tetap diam. Setelah beberapa pertanyaan yang tak dijawab berlalu, sang hakim akhirnya berkata pada bangsawan itu, “Mungkin orang ini bisu, sehingga dia tidak bisa memperingatkanmu ketika di pasar tadi.”

Bangsawan itu agak geram mendengar perkataan hakim itu. Ia lalu berkata, “Tidak mungkin! Ia tidak bisu wahai hakim. Aku mendengarnya berteriak di pasar tadi. Tidak mungkin sekarang ia bisu!” dengan nada sedikit emosi. “Pokoknya saya tetap minta ganti,” lanjutnya.

Dengan tenang sambil tersenyum, sang hakim berkata, “Kalau engkau mendengar teriakannya, mengapa engkau tidak minggir?” Jika ia sudah memperingatkan, berarti ia tidak bersalah. Anda yang kurang memperdulikan peringatannya.”

Mendengar keputusan hakim itu, bangsawan itu hanya bisa diam dan bingung. Ia baru menyadari ucapannya ternyata menjadi bumerang baginya. Akhirnya ia pun pergi. Dan, lelaki tukang kayu bakar itu pun pergi. Ia selamat dari tuduhan dan tuntutan bangsawan itu dengan hanya diam.

Kisah Sapi dan Kerbau Bertukar Kulit


Al-kisah pada zaman dahulu kala sapi dan kerbau adalah sahabat karib. Pada masa itu sapi mempunyai kulit berwarna hitam kecoklatan, sedangkan kerbau berkulit putih.

Pada suatu hari, datang pendatang baru di padang rumput tempat para sapi dan kerbau tinggal, hewan itu adalah banteng. Dengan tanduk yang besar dan runcing serta warna kulit hitam gelap yang membuatnya tampak sangat gagah, membuat para sapi dan kerbau betina sangat mengaguminya.

Dengan cepat "kabar angin" tentang kegagahan banteng tersebar ke penjuru padang rumput, sehingga banteng menjadi "buah bibir" di kalangan para sapi dan kerbau betina. Sapi tak terlalu memperdulikan akan kabar itu, karena dia mensyukuri karunia yang diberikan Tuhan padanya.

Tapi tak begitu dengan si kerbau, dia merasa iri dan cemburu pada si banteng.

"Huh.. apa hebatnya si banteng itu? Padahal aku tak jauh beda dari dia. Tandukku juga besar dan runcing, badanku juga gagah, cuma beda warna kulit saja..", Gerutu si kerbau dalam hati.

"hmm.. mungkin saja jika warna kulitku hitam, aku bisa lebih gagah dari si banteng, dan aku akan ganti jadi terkenal. Kalau begitu, aku ada ide untuk menipu sapi agar mau bertukar kulit denganku, hahaha...", Mulai timbul fikiran licik di otak si kerbau.

Akhirnya si kerbau pun menemui si sapi yang waktu itu sedang berendam di sungai. Si kerbau pun mulai membujuk dan merayu sapi agar mau bertukar kulit. Tapi si sapi tak mau karena dia sudah merasa mensyukuri apa yang dia miliki.

Tapi si kerbau tak mau menyerah, sampai dia merengek-rengek dan memohon atas nama persahabatan pada si sapi.

Karena terus didesak dan merasa kasihan, si sapi pun akhirnya mau. Tapi si kerbau harus berjanji setelah mereka bertukar kulit, kerbau harus mensyukuri apapun yang dia miliki dan tak menyesali tiap hal yang dia minta sendiri. Tanpa fikir panjang karena terbawa nafsu, si kerbau pun menyanggupi.

Dan akhirnya mereka bertukar kulit, si sapi jadi berwarna putih sedang kerbau berwarna hitam kecoklatan.

Tapi setelah bertukar, ternyata kulit sapi terlalu kecil untuk ukuran tubuh kerbau yang kekar dan besar, sehingga kulit itu terasa sesak, ketat, dan membuat kerbau tak nyaman. Sedangkan kulit kerbau yang dipakai sapi ternyata kebesaran, bahkan bagian leher terlihat menggelambir dan terasa longgar, sehingga membuat sapi merasa sejuk dan bebas bergerak.

Tapi karena merasa kurang nyaman dengan kulit barunya, si kerbau pun kembali mengajak untuk bertukar kulit, tapi si sapi tidak mau lagi karena sebelumnya si kerbau telah berjanji.

Berulang kali si kerbau merengek dan merayu untuk bertukar lagi, tapi si sapi tetap tak mau. Bahkan tiap bertemu dimanapun dan kapanpun, si kerbau tetap berusaha membujuk. Tapi si sapi selalu bilang "tidak mau".

Nah itulah alasan yang menjelaskan kenapa kulit sapi terlihat longgar dan menggelambir di bagian leher. Dan itu pula alasan yang menjelaskan kenapa sapi bersuara "mooohhh" yang dari bahasa jawa "emoh" yang artinya "tidak mau".

Hikayat Batu dan Pohon Ara


Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana, seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata wayang nya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan, dalam kawalan ketat para pengawal.Rombongan itu bergerak terus hingga pada suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya.

“Bapa, mengapa tampak oleh ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?”.

“Baik pengamatan mu, anak ku”, jawab Ayahnya,”bagi orang biasa itu hanyalah batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmat, semua itu akan tampak berbeda”.

“Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik cendikia itu, Bapa ?”, tanya anaknya kembali.

“Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmat yang tersebar, memang hikmat berseru-seru dipinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit dari kita yang menggubris ajakan itu.”.

“Apakah Bapa akan menjelaskan perkara itu pada ku?”

“Tentu buah hatiku”, sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya.

“Dahulu, ketika aku masih belia, hal ini pun menjadi pertanyaan di hati ku. Dan kakek mu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak oleh mu sebenarnya sedang menindih sebuah biji pohon ara.”

“Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu Bapa ?”

“Tidak anak ku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat di tepi jalan kemarin”.

“Bilakah hal itu terjadi Bapa ?”

“Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan angin dan dari mata segala hewan. Sampai beberapa waktu kemudian benih itu akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan di atas permukaannya, tetapi dibawah, akarnya terus menjalar. Setelah dirasa cukup barulah tunas nya akan muncul perlahan. Pohon ara itu akan tumbuh semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang menindihnya. Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir di setiap pohon ara akan kau temui, sebuah batu, seolah menjadi peringatan bahwa batu yang pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang berlindung dari terik matahari yang membakar.”

“Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapa ?”, tanya anaknya.

Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian meneruskan penjelasannya.

“Benar anak ku. Jika suatu saat engkau di dalam masa-masa hidupmu, merasakan terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah kesempatan bagi mu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu. Jadi jika benih pohon ara yang demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khalik untuk dapat menyingkirkan batu diatasnya, bagaimana dengan kita ini. Dzat Yang Maha Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri-diri kita. Dan menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk dimuka bumi ini. Perhatikanlah kata-kata ini anak ku. Pahatkan pada loh-loh batu hatimu, sehingga engkau menjadi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena memang kita ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita.”

Selasa, 29 Agustus 2017

Si Miskin Yang Tamak


  Alkisah pada jaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang sangat miskin. Mereka hidup serba kekurangan karena penghasilan mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Jangankan untuk membeli lauk pauk, untuk mendapatkan beras pun kadang-kadang harus berhutang pada tetangga. Hidup mereka benar-benar memprihatinkan.

  Suatu hari pak Miskin bermimpi. Seorang kakek datang menemuinya dan memberikannya seutas tali.

“Hai Miskin! Besok pergilah merakit dan carilah sebuah mata air di sungai Sepunjung!” kata si kakek yang kemudian menghilang.

Pak Miskin terbangun dengan bingung. “Wahai, mimpi apa aku tadi? Kenapa kakek tadi menyuruhku pergi merakit?” kata pak Miskin dalam hati.

  Hari masih pagi, ketika pak Miskin akhirnya memutuskan untuk mengikuti pesan si kakek. “Tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu aku mendapatkan keberuntungan,” pikir pak Miskin.

  Maka pergilah ia dengan menggunakan perahu satu-satunya. Dia terus mendayung di sepanjang sungai sambil mencari mata air yang dimaksud si kakek dalam mimpinya. Tidak berapa lama dilihatnya riakan air di pinggir sungai pertanda bahwa di bawah sungai itu terdapat mata air.

“Hmmm, mungkin ini mata air yang dimaksud,” pikir pak Miskin. Dia menengok ke kanan dan ke kiri mencari si kakek dalam mimpinya. Namun hingga lelah lehernya, si kakek tidak juga kelihatan.

  Ketika dia sudah mulai tidak sabar, tiba-tiba muncullah seutas tali di samping perahunya. Tanpa pikir panjang ditariknya tali tersebut. Ternyata di ujung tali itu terikat rantai yang terbuat dari emas. Alangkah senangnya pak Miskin. Cepat-cepat ditariknya rantai itu.

“Oh, ternyata benar, ini adalah hari keberuntunganku. Dengan emas ini aku akan kaya!,” kata pak Miskin dengan gembira.

  Dia menarik rantai itu dengan sekuat tenaga dan mengumpulkan rantai tersebut di atas perahunya. Tiba-tiba terdengar kicau seekor burung dari atas pohon: “Cepatlah potong tali itu dan kembalilah pulang!”

  Namun karena terlalu gembira, pak Miskin tidak mengindahkan kicauan burung itu. Dia terus menarik rantai emas itu hingga perahunya tidak kuat lagi menahan bebannya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian perahu itu miring dan kemudian terbalik bersama pak Miskin yang masih memegang rantai emasnya.

  Rantai emas yang berat itu menarik tubuh pak Miskin hingga terseret ke dalam sungai. Pak Miskin berusaha menarik rantai itu. Namun rantai itu malah melilitnya dan menyeretnya semakin dalam.

  Pak Miskin yang kehabisan udara, gelagapan di dalam air. Dengan susah payah dia melepaskan diri dan kembali ke permukaan. Dengan nafas tersengal-sengal dilihatnya harta karunnya yang tenggelam ke dalam sungai. Dalam hati dia menyesal atas kebodohannya. Seandainya dia tidak terlalu serakah pasti kini hidupnya sudah berubah. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan pak Miskin pun pulang ke rumahnya dengan tangan hampa.

Akhlak dan Karamah


  Seorang yang saleh mempunyai saudara yang tempat tinggalnya sangat jauh, karena itu jarang sekali ia bisa mengunjunginya. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, ia datang mengunjunginya. Tetapi tampak rumahnya tertutup, maka ia mengetuk pintunya dan mengucap salam. Terdengar suara ketus seorang wanita dari dalam rumah, yang mungkin istrinya:

 “Siapa??”. Ia berkata, “Aku saudara suamimu, datang dari jauh untuk menjenguknya!!”. Tanpa membukakan pintu, terdengar suaranya yang ketus lagi, “Ia masih pergi mencari kayu, semoga saja ALLAH tidak mengembalikannya lagi ke sini….”. Kemudian masih diteruskan dengan berbagai macam caci-maki kepada saudaranya itu. 

  Ia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Ia tahu betul bahwa saudaranya itu juga saleh, karena memang begitulah kedua orang tuanya dahulu mendidiknya. Segala macam umpatan dan cacian itu mungkin salah sasaran kalau ditujukan kepada saudaranya itu. Ia memutuskan untuk menunggu dan tidak berapa lama saudaranya itu datang. Saudaranya itu memang mencari kayu, tetapi ia tidak membawanya sendiri, seekor harimau yang cukup besar berjalan di belakangnya sambil ‘menggendong’ kayu tersebut. Setelah kayu diturunkan dari punggung sang harimau, saudaranya itu berkata:

  “Pergilah, semoga Allah memberkahi dirimu!!”. Harimau itu berlalu pergi dengan patuhnya, dan pemandangan itu membuatnya terkagum-kagum. Tampaknya saudaranya itu telah mencapai maqam yang cukup tinggi di sisi ALLAH, hingga mempunyai ‘karamah’ bisa memerintah binatang buas. Saudaranya itu mengajaknya masuk, dan meminta dengan lemah lembut kepada istrinya untuk menyiapkan makanan bagi mereka. Sang istri memenuhi perintahnya dengan sikap yang kasar, dan mulutnya tidak henti-hentinya mengomel. Sebaliknya, ia melihat saudaranya itu hanya diam dan terlihat sangat lapang, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sama sekali tidak ada sikap marah dan tersinggung dengan perkataan istrinya yang sangat menusuk perasaan, bahkan tampak sekali saudaranya itu nyaman dan bahagia dengan keadaaannya. 

  Melihat kondisi yang demikian itu ia urung untuk menanyakan keadaan rumah tangganya, seperti keinginannya semula. Dengan keadaan seperti itu, ia tidak ingin berlama-lama untuk tinggal. Ia pamit pulang, tetapi sepanjang perjalanan tidak habis-habisnya ia memikirkan keadaan saudaranya itu. Di satu sisi ia mempunyai ‘karamah’ yang begitu mengagumkan, tetapi di sisi lainnya, ia menghadapi sikap istrinya yang begitu buruk. 

  Beberapa tahun berlalu dan tidak bertemu, ia datang lagi mengunjungi saudaranya itu. Sampai di rumahnya yang tampak tertutup, ia mengetuk pintunya dan mengucap salam. Maka terdengar suara seorang wanita, yang mungkin adalah istri saudaranya itu, 

  “Siapa??”. Kali ini suara itu begitu lembut dan santun, sangat berlawanan suara wanita bertahun sebelumnya. Ia berkata, “Aku adalah saudara suamimu, datang dari jauh untuk menjenguk keadaannya!!”. Suara santun wanita itu terdengar lagi, “Selamat datang, suamiku sedang mencari kayu di hutan. Silahkan untuk menunggu, tetapi mohon maaf aku tidak bisa membukakan pintu hingga suamiku pulang!!”. Ia berkata, “Tidak mengapa, biar saja aku menunggu di luar!!”. 

  Kemudian ia terlibat pembicaraan singkat lewat pintu yang tertutup, dan istri saudaranya itu memuji-muji kebaikan dan kesalehan suaminya itu setinggi langit, dan menyatakan rasa syukurnya karena bisa menjadi istrinya. Tidak lama kemudian saudaranya itu datang, tetapi yang mengherankannya tidak ada harimau yang membawakan kayunya seperti dahulu. Ia memikul sendiri tumpukan kayu tersebut, tampak kelelahan dan keringat mengalir di wajahnya, tetapi masih dengan kelapangan dan rasa bahagia yang sama seperti bertahun sebelumnya. 

  Mendengar suaranya itu, sang istri langsung membuka pintu dan menyambut kedatangannya dengan santun dan hormatnya. Saudaranya itu mengajaknya masuk, dan ternyata makanan telah terhidang, maka mereka langsung menyantap makanan yang disediakan istrinya tersebut. Sambil makan ia berkata, “Wahai saudaraku, apakah yang terjadi? Apakah engkau telah kehilangan ‘karamah’mu yang dahulu?”. 

  Masih dengan kelapangan hati dan pancaran rasa bahagia yang sama seperti bertahun sebelumnya, saudaranya itu berkata, “Wahai saudaraku, dahulu itu ALLAH memberikan istri yang cerewet dan rendah akhlaknya kepadaku, dan aku ikhlas menerimanya. Karena kesabaranku menghadapinya, maka ALLAH mendatangkan harimau untuk membantuku. Beberapa bulan yang lalu istriku yang cerewet itu meninggal, dan sejak itu pula harimau itu tidak membantuku lagi, dan aku harus memikul sendiri kayu-kayu itu. Namun demikian, ALLAH tetap memberikan ‘karamah’ lainnya kepadaku, yakni istri yang cantik dan masih muda, serta sangat baik akhlaknya dan tekun ibadahnya”.