Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2018

Cangkir yang Cantik


Cangkir yang Cantik

Alkisah sepasang kakek nenek mengunjungi sebuah toko souvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka yang sedang berulang tahun. Saat sedang mencari-cari hadiah yang cocok, mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang terlihat cantik.

"Lihat, alangkah cantiknya cangkir ini" kata si nenek kepada suaminya.

"Kau benar, mungkin inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," balas si kakek.

Ketika mereka sedang mengamati cangkir itu, tiba-tiba cangkir itu berbicara,: "Terima kasih untuk perhatiannya, namun perlu kalian ketahui bahwa aku dulunya tidaklah cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar".

"Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "Belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata "belum !"

"Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

"Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku". Begitulah cerita si cangkir.

Rabu, 12 Desember 2018

Obrolan Iblis dan Fir'aun

Obrolan Iblis dan Fir'aun

Suatu hari Iblis menemui Fir’aun dan berkata,: "Apakah engkau mengenalku ?".

Fir’aun menjawab,: ” Ya ”.

Iblis kemudian berkata kembali,: "Engkau telah mengungguliku untuk satu perkara",

” Untuk perkara apa ?", tanya Fir’aun.

Iblis menjawab, "Kelancanganmu terhadap Allah dengan mengaku dirimu sebagai Tuhan. Aku kan lebih tua, lebih banyak ilmu dan lebih kuat darimu, namun tidak berani mengatakan hal itu".

Fir’aun berkilah, "Ya, kau memang benar, namun aku akan bertobat".

"Tenang, jangan kau lakukan itu". sergah Iblis sembari menjelaskan,:

"Penduduk Mesir telah menganggapmu sebagai Tuhan. Jika kau tarik kembali pengakuanmu itu, tentu mereka akan lari darimu dan berpihak pada musuh-musuhmu. Mereka pasti akan merampas kerajaanmu sehingga kau menjadi sangat hina".

Fir’aun berkata, "Ah ya, kau benar". Ia kemudian bertanya kepada Iblis,:

"Tetapi tahukah engkau siapa yang lebih jahat daripada kita dimuka bumi ini ?".

Iblis menjawab,: "Ya, dia adalah orang yang dimintai maaf namun tidak mau memaafkan, orang seperti inilah yang lebih jahat daripada aku & kau ” .

Kamis, 07 September 2017

Beringin dan Semangka



Seorang petani merasa heran mengapa semangka yang tangkainya kecil itu mempunyai buah yang besar, sebesar kelapa, sedangkan pohon beringin yang sangat besar itu mempunyai buah yang sangat kecil, lebih kecil dari jari kelingking. 

"Kalau beringin mempunyai buah sebesar semangka tentu lebih gagah dan buah semangka yang kecil bila buahnya kecil rasanya lebih pantas. Tuhan telah membuat kekeliruan. Dia bukan pencipta yang handal", pikirnya.

Setelah sekian lama merenung akhirnya dia tertidur di bawah pohon beringin. Karena angin yang kencang maka jatuhlah buah beringin itu dan mengenai hidungnya. Seketika dia terbangun, "Untung buahnya kecil, kalau sebesar semangka bisa melayang nyawaku". 

Kemudian dia pun pulang sambil terus-menerus memuji Tuhan. "Ah, ternyata bukan Tuhan yang keliru, tetapi aku".

Kisah Pemuda dan Batu Berlubang



Dikisahkan pada zaman dulu ada seorang pemuda yang masih belajar di sebuah madrasah. Dia terkenal sebagai murid yang rajin, namun juga dikenal sebagai murid yang bodoh dan selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan dia juga sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan oleh gurunya di sekolah, hingga akhirnya membuatnya patah semangat.

Dalam keadaan frustasi, dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, memaksa dirinya untuk berteduh di dalam sebuah gua. Ketika berada di dalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut.

Dia pun bergumam dalam hati, "sungguh sebuah keajaiban". Melihat kejadian itu dia pun merenung, "bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air". Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia diasah terus menerus maka ia akan menjadi lunak. "Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar", begitu gumamnya.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh dan dia memutuskan untuk kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya serta menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar di jiwa pemuda itu, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid di sekolah itu.

Sejak saat itu perubahan terjadi dalam diri sang pemuda. Dia pun menjadi murid yang tercerdas dan melampaui teman-temannya yang telah menjadi para Ulama besar. Pemuda itu akhirnya menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karya kitab-kitab terkenal.

Pemuda itu adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun beliau lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar sendiri berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah. Karya-karya beliau yang terkenal di antaranya: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Rabu, 06 September 2017

Kisah Burung Hud-hud dan Nabi Ibrahim


Alkisah ketika Nabi Ibrahim dibakar atas perintah raja Namrud, terlihat seekor burung Hud Hud yang sibuk terbang kesana kemari mencari air. Ketika dia menemukan sumber air, dengan paruhnya yang kecil, dia membawa air dan menyiramkan keatas api yang berkobar membakar Nabi Ibrahim.

Burung lain heran dan mempertanyakan bagaimana mungkin air itu mampu memadamkan api tersebut?

Burung Hud Hud menjawab "aku tahu air ini takkan mampu memadamkan api yang membakar Ibrahim, tapi aku tak peduli. Yang penting aku telah berusaha sekuat tenaga menolong orang yang kucintai".

"Air ini juga nanti akan bersaksi di hadapan Tuhan bahwa aku telah berbuat semaksimal mungkin untuk memadamkan api tersebut".

Burung yang lain hanya bisa terdiam mendengar jawaban burung Hud Hud yang tidak disangka itu.

Kisah Pengembara dan Tengkorak Yang Berbicara


Alkisah, ada seorang pengembara yang suka banyak bicara. Suatu hari, ia menempuh perjalanan yang mengharuskannya melewati sebuah hutan belantara yang jarang sekali diinjak manusia. Ketika sampai di tengah-tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara orang berbicara. Pengembara itu merasa takut, tetapi juga penasaran:

"Suara siapakah itu, di tengah-tengah hutan yang sepi begini?" bisiknya dalam hati. Lalu, dengan hati-hati ia mencari asal suara tadi. Akhirnya ia menemukan jawabannya. Suara tadi berasal dari tengkorak manusia yang ada di bawah pohon besar. Alangkah terkejutnya ia.

Dengan rasa tidak percaya, ia memberanikan dirinya mendekat dan bertanya, "Hai tengkorak, bagaimana kamu bisa sampai di tengah-tengah hutan belantara ini?"

Di luar dugaan, si tengkorak itu bisa mendengar dan menjawab pertanyaannya, "Hai pengembara! Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara," jawab si tengkorak. 

Mengetahui tengkorak bisa mendengar dan berbicara, si pengembara pun jadi sangat terhibur dan terus mengobrol tentang segala hal yang menarik hatinya. Ia merasa menemukan pengalaman yang benar-benar aneh dan sangat menakjubkan.

Saat keluar dari hutan, si pengembara terus teringat dengan kejadian aneh yang dialaminya. Dengan penuh semangat, ia bercerita tentang tengkorak yang bisa bicara kepada setiap orang yang dijumpainya. Tentu saja, tidak ada seorang pun yang mau percaya. Malah ada yang mencemooh ceritanya, "Dasar bodoh! Mana ada tengkorak yang bisa bicara!". Namun, biarpun tidak ada yang mau percaya dengan ceritanya, pengembara itu tetap saja bercerita kepada banyak orang lainnya.

Akhirnya, cerita tengkorak yang bisa berbicara itu pun terdengar sampai ke istana. Singkat cerita, baginda raja tertarik dan kemudian mengundang pengembara itu ke istana. Kembali, si pengembara menceritakan pengalamannya dengan bangga:

"Baginda, hamba bertemu tengkorak yang bisa bicara. Mungkin baginda bisa menanyakan tentang masa depan kerajaan ini kepada tengkorak itu," bujuk si pengembara. 

Karena rasa ingin tahu, raja pun mengajak para pengawalnya dan meminta si pengembara menunjukkan jalan ke hutan di mana tengkorak itu berada.

Setibanya di sana, pengembara dengan begitu percaya diri langsung bertanya kepada si tengkorak, "Hai tengkorak, bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?"

Kali ini, tengkorak itu diam membisu. Raja dan para pengawal tampak tidak sabar menunggu. Ketika pengembara itu mengulang pertanyaannya beberapa kali dengan suara lebih keras, tengkorak itu tetap diam membisu. Yang terdengar hanya desau angin dan gaung suara si pengembara.

Melihat hal itu, para pengawal menatap raja dengan pandangan geli. Merasa telah diperdayai, sang raja menjadi murka. Ia memandang marah si pengembara:

"Sebenarnya aku tidak percaya omonganmu. Apakah kamu mengira bahwa aku ini raja yang bodoh? Sebenarnya, aku datang ke sini untuk membongkar kebohonganmu. Kamu harus dihukum atas hal ini!"

Sang raja pun langsung memerintahkan hukuman mati untuk si pengembara. Setelah itu, jenazah si pengembara ditinggalkan di sana. Kepalanya diletakkan di samping tengkorak tadi.

Begitu raja dan para pengawalnya pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba si tengkorak bersuara. "Hai Pengembara! Bagaimana kamu bisa sampai di hutan ini?"

Dan kepala si pengembara pun menjawab, "Yang membawa aku ke sini adalah mulut yang banyak bicara."

Selasa, 05 September 2017

Kisah Pencuri dan Ahli Ibadah


Di zaman Nabi Musa a.s. ada seorang hamba Allah yang kerjanya mencuri. Sudah 40 tahun dia mencuri. Suatu hari, dia melihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Katanya, “Kalau aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada barokahnya untuk aku.”

Tetapi setelah difikirkannya lagi, dia tidak jadi melangsungkan niatnya itu. Dia berkata, “Aku ini pencuri. apa pantas pencuri seperti aku ini berjalan bersama seorang nabi”. Tak lama kemudian, dia melihat seorang abid berlari-lari kecil mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Si abid ini telah beribadah secara istiqamah selama 40 tahun dan dikenali orang. Si pencuri itu berkata di dalam hatinya, “Lebih baik aku berjalan bersama si abid ini saja. Barang kali bisa mendapat kebaikan dekat dengan dia”.

Lantas si pencuri menghampiri si abid dan meminta  untuk berjalan bersamanya. Tapi ketika tampak si pencuri, si abid terkejut dan terus merasa takut. Dia berkata di dalam hatinya, “Celaka aku! Kalau si pencuri ini berjalan bersama aku, takut-takut nanti rusak segala kebaikan dan amalanku”.

Si abid terus berlari supaya si pencuri tidak dapat mengikuti. Si pencuri tadi terus mengikuti si abid karena hendak berjalan bersamanya. Akhirnya sampailah mereka berdua kepada Nabi Musa a.s.

Nabi Musa a.s. kemudian berpaling dan bersabda kepada mereka berdua, “Aku baru saja mendapat wahyu dari Allah Ta'ala supaya memberitahukan kepada kalian berdua bahwa segala amalan baik dan buruk kalian telah dimansukhkan oleh Allah”.

Maka terkejutlah si abid dan si pencuri tadi. Berbahagialah si pencuri karena segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah diampunkan oleh Allah. Celaka dan dukacitalah si abid karena segala amalan dan ibadahnya selama 40 tahun telah ditolak dan tidak diterima oleh Allah.

Rupa-rupanya si pencuri itu, walaupun kerjanya mencuri, dia tidak suka akan perbuatannya itu. Dia miskin dan tanggungannya banyak. Masyarakat ketika itu sudah rusak dan orang kaya enggan membantu fakir miskin. Dia mencuri karena terpaksa. Oleh sebab itu, setiap kali dia mencuri, dia amat merasa bersalah dan berdosa. Jiwanya tersiksa dan menderita. Selama 40 tahun dia menanggung rasa berdosa itu dan selama itu juga jiwanya parah menanggung derita. Selama 40 tahun hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan.

Si abid pula, amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya. Dia yakin ibadahnya akan dapat membeli Syurga. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah baik. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun si abid ini mendidik hatinya supaya merasa lebih baik dan lebih mulia setiap kali dia beribadah. Hingga dia merasa hebat dan mulia derajatnya, sehingga tidak mau berjalan bersama orang yang hina dan berdosa. Dia merasa hanya layak berjalan bersama para Nabi. Inilah akhirnya ketetapan Allah atas mereka berdua.