Tampilkan postingan dengan label Riwayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riwayat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2018

Imam Al-Ghazali dan Seekor Lalat

Imam Al-Ghazali dan Seekor Lalat

Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, Syaikh Nawawi al-Bantani menuliskan cerita seseorang yang berjumpa dengan Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi.

"Bagaimana Allah memperlakukanmu?" tanya orang tersebut.

Imam al-Ghazali mengisahkan bahwa di hadapan Allah ia ditanya tentang bekal apa yang ia serahkan untuk-Nya. Al-Ghazali pun menjawabnya dengan menyebut satu per-satu seluruh prestasi ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan dunia.

"Aku (Allah) menolak itu semua!", ternyata Allah menolak berbagai amalan Imam al-Ghazali, kecuali satu kebaikannya yaitu ketika bertemu dengan seekor lalat.

Kisahnya, suatu saat Imam al-Ghazali tengah sibuk menulis kitab hingga seekor lalat mengusiknya barang sejenak. Ternyata lalat ini kehausan, dan tinta milik Imam al-Ghazali pun menjadi sasaran minumnya. Sang Imam yang merasa kasihan lantas berhenti menulis untuk memberi kesempatan si lalat melepas dahaga dari tintanya itu. Itulah amal kebaikan yang diterima Allah.

"Masuklah bersama hamba-Ku ke dalam surga," kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam kisah mimpi itu.

Rabu, 12 Desember 2018

Abu Nashr, Ikan dan Sedekahnya

Abu Nashr, Ikan dan Sedekahnya

Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Nashr as Shayyad. Ia hidup bersama istri dan seorang putranya dalam keadaan sangat fakir. Suatu ketika ia berjalan dalam keadaan bingung, karena istri dan putranya menangis kelaparan. Di jalan ia berpapasan dengan salah seorang Syaikh kaum muslimin, Ahmad Ibn Miskin dan ia berkata kepada Syaikh tersebut: "Aku kelelahan". 

Maka berkatalah Sang Syaikh kepadanya: "Ikutlah aku ke laut". Abu Nashr pun mengikutinya.

Ketika keduanya sampai di laut, Syaikh berkata kepadanya: "Sholatlah dua raka’at!". Maka ia pun sholat. Kemudian Syaikh berkata: "Ucapkanlah Bismillah" sembari menyuruh Abu Nashr melemparkan jaringnya ke laut. Ia pun menurutinya. Ketika jaring ditarik, jaring tersebut telah berisi satu ikan yang sangat besar.

Berkatalah Sang Syaikh kepada Abu Nashr: "Juallah ikan itu, dan belilah Makanan untuk keluargamu". 

Maka ia pun Menjual ikan itu di pasar. Kemudian ia membeli dua buah Fathirah (roti isi), satunya berisikan daging dan lainnya berisikan manisan. Lalu ia memutuskan untuk pergi mendatangi Sang Syaikh dan hendak memberinya roti. Sesampainya di sana, Sang Syaikh berkata kepadanya,:

 "Seandainya kita hanya memberi makan untuk diri kita sendiri, tentu ikan itu tidak akan keluar (tertangkap)".

Maksudnya, Syaikh melakukan kebaikan untuk mendapatkan kebaikan yang lain. Ia tidak menunggu harga bayaran. Kemudian Syaikh mengembalikan roti tersebut dan berkata kepada Abu Nashr: "Ambilah (dan berikanlah) untuk diri dan keluargamu!".

Dalam perjalanan menuju rumahnya, Abu Nashr berjumpa dengan seorang wanita yang sedang menangis karena kelaparan, bersama anaknya yang masih kecil. Keduanya melihat kepada dua buah roti yang ada pada tangan Abu Nashr.

Abu Nashr bertanya kepada dirinya sendiri,: "Wanita ini seperti halnya istri dan putraku yang kesakitan menahan lapar, kepada siapakah kuberikan dua buah roti ini?". 

Demi melihat kepada mata wanita tersebut, dia tidak kuasa menahan diri saat melihat air mata yang mengalir dari keduanya. Kemudian Abu Nashr berkata kepadanya: "Ambillah dua buah Roti ini!". Maka bersinarlah wajah wanita tersebut dan tersenyumlah pula putranya karena bahagia.

Kembalilah Abu Nashr dalam kebingungan, bagaimana dia akan memberi makan istri dan putranya?. Ditengah perjalanannya, dia mendengar seseorang yang menyeru: "Siapakah yang bisa menunjukkanku kepada Abu Nashr as Shayyad ?". Maka orang-orang pun menunjuk kepadanya. Orang tersebut berkata kepada Abu Nashr:

"Sesungguhnya ayahmu telah meminjamkan hartanya kepadaku, sejak dua puluh tahun yang lalu. Kemudian dia mati, sementara aku belum mencari tahunya. maka ambillah 30 ribu Dirham milik ayahmu ini Wahai anakku!". Seketika itu juga Abu Nashr pun menjadi orang kaya.

Abu Nashr as Shayyad berkata: "Aku berubah menjadi orang yang paling kaya, memiliki beberapa rumah dan perniagaan, dan aku bisa bershadaqah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Kemudian aku bangga terhadap diriku sendiri karena banyaknya shadaqah yang aku keluarkan. Maka suatu malam aku pun bermimpi dalam tidurku bahwa mizan timbangan amal telah ditegakkan.

Kemudian menyerulah seorang penyeru: "Wahai Abu Nashr as Shayyad, kemarilah timbang kebaikan dan keburukanmu. 

Aku berkata: "Maka aku letakkan kebaikan dan keburukkanku. Ternyata keburukan-keburukanku lebih berat dari kebaikanku. Maka kukatakan: "Mana harta yang dulu aku bershadaqah dengannya?". Maka, harta-harta itu  diletakkan. Ternyata pada setiap seribu dirhamnya terdapat nafsu jiwa atau kebanggaan terhadap diri sendiri. Seakan harta-harta tersebut seperti gulungan-gulungan kapas yang tidak bernilai sama sekali.

Akupun menangis dan berkata: "Dimana keselamatan?". Kemudian aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?". Maka aku mendengar seorang Malaikat berkata: "Ya, dia masih memiliki dua buah roti isi". Maka diletakkanlah dua buah roti isi tersebut di daun timbangan kebaikan, dan turunlah daun timbangan kebaikan itu hingga sejajar dengan daun timbangan keburukan. Akupun takut .

Kemudian aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?". Aku kembali mendengar seorang Malaikat berkata: "Ya, dia masih memiliki sesuatu". Akupun berkata: "Apa itu?". Maka Malaikat berkata: "Air mata wanita yang engkau beri dua buah roti isi". Maka diletakkanlah air mata tersebut, tiba-tiba air mata tersebut seperti batu hingga memberatkan daun timbangan kebaikan. Akupun bergembira.

Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata: "Apakah dia masih memiliki sesuatu?". Maka dikatakan: "Ya, senyum anak kecil saat engkau beri dua buah roti isi". Maka daun timbangan kebaikanpun semakin berat dan mengalahkan daun timbangan keburukan. Lalu aku mendengar seorang penyeru berkata: "Sungguh telah selamat, sungguh telah selamat". Akupun kemudian terbangun dari tidur seraya berkata : "Seandainya kita hanya memberi makan diri kita sendiri maka ikanpun tidak akan keluar".

Obrolan Iblis dan Fir'aun

Obrolan Iblis dan Fir'aun

Suatu hari Iblis menemui Fir’aun dan berkata,: "Apakah engkau mengenalku ?".

Fir’aun menjawab,: ” Ya ”.

Iblis kemudian berkata kembali,: "Engkau telah mengungguliku untuk satu perkara",

” Untuk perkara apa ?", tanya Fir’aun.

Iblis menjawab, "Kelancanganmu terhadap Allah dengan mengaku dirimu sebagai Tuhan. Aku kan lebih tua, lebih banyak ilmu dan lebih kuat darimu, namun tidak berani mengatakan hal itu".

Fir’aun berkilah, "Ya, kau memang benar, namun aku akan bertobat".

"Tenang, jangan kau lakukan itu". sergah Iblis sembari menjelaskan,:

"Penduduk Mesir telah menganggapmu sebagai Tuhan. Jika kau tarik kembali pengakuanmu itu, tentu mereka akan lari darimu dan berpihak pada musuh-musuhmu. Mereka pasti akan merampas kerajaanmu sehingga kau menjadi sangat hina".

Fir’aun berkata, "Ah ya, kau benar". Ia kemudian bertanya kepada Iblis,:

"Tetapi tahukah engkau siapa yang lebih jahat daripada kita dimuka bumi ini ?".

Iblis menjawab,: "Ya, dia adalah orang yang dimintai maaf namun tidak mau memaafkan, orang seperti inilah yang lebih jahat daripada aku & kau ” .

Kamis, 07 September 2017

Kisah Ibnu Bashad dan Seekor Kucing



Seorang Sufi ternama bernama ibnu Bashad yang hidup pada abad ke sepuluh Hijriyah bercerita bahwa suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota Kairo sambil menikmati makan malam. 

Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu kembali lagi. Setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai di sebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya.

Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia akhirnya memutuskan menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.

Kisah Pemuda dan Batu Berlubang



Dikisahkan pada zaman dulu ada seorang pemuda yang masih belajar di sebuah madrasah. Dia terkenal sebagai murid yang rajin, namun juga dikenal sebagai murid yang bodoh dan selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan dia juga sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan oleh gurunya di sekolah, hingga akhirnya membuatnya patah semangat.

Dalam keadaan frustasi, dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, memaksa dirinya untuk berteduh di dalam sebuah gua. Ketika berada di dalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut.

Dia pun bergumam dalam hati, "sungguh sebuah keajaiban". Melihat kejadian itu dia pun merenung, "bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air". Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia diasah terus menerus maka ia akan menjadi lunak. "Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar", begitu gumamnya.

Sejak saat itu semangatnya pun kembali tumbuh dan dia memutuskan untuk kembali ke sekolahnya dan menemui Gurunya serta menceritakan peristiwa yang baru saja ia alami. Melihat semangat tinggi yang terpancar di jiwa pemuda itu, gurunya pun berkenan menerimanya kembali untuk menjadi murid di sekolah itu.

Sejak saat itu perubahan terjadi dalam diri sang pemuda. Dia pun menjadi murid yang tercerdas dan melampaui teman-temannya yang telah menjadi para Ulama besar. Pemuda itu akhirnya menjadi ulama tersohor dan memiliki banyak karya kitab-kitab terkenal.

Pemuda itu adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah yang berasal dari Al-Asqalan. Namun beliau lebih masyhur dengan julukan Ibn Hajar Al Asqalani. Ibnu Hajar sendiri berarti anak batu sementara Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah. Karya-karya beliau yang terkenal di antaranya: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

Kuda yang Bercela


Dalam suatu riwayat, Abdullah bin Mubarak melihat seekor kuda perang di sebuah pasar. Kuda tersebut dijual dengan harga empat puluh dirham. Melihat hal itu Abdullah menanggapi, "alangkah murahnya kuda ini."

Kemudian si penjual kuda mengutarakan bahwa kuda tersebut memilki banyak cela. Maka Abdullah bertanya, "apa cacat kuda ini?"

Si penjual menjawab, "ketika digunakan untuk menghajar musuh, kuda ini enggan lari, dan ketika dikejar musuh, kuda ini malah berhenti, sehingga musuh dapat menyusul. Selain itu kuda ini juga suka meringkik dan berteriak ketika berada di tempat yang seharusnya diam."

"Wah, kuda ini dapat mencelakakan!" ucap Abdullah sambil berlalu dari tempat itu.

Namun, ternyata kuda itu akhirnya dibeli oleh murid Abdullah bin Mubarak sendiri. Pada saat perang, si murid ikut berperang dengan mengendarai kuda tersebut, dan ternyata kuda tersebut dapat dikendalikan dengan baik. Menyaksikan hal itu, Abdullah bin Mubarak berkata pada si murid, "apa engkau tahu kalau kuda ini memiliki cacat?"

"Ya, celanya seperti yang dikatakan si penjual itu. Tetapi, ketika saya hendak membelinya, saya berbisik ke telinganya. "Hai kuda, sungguh aku telah meninggalkan perbuatan- perbuatan dosa dan bertaubat pada Allah. Maka sekarang tinggalkanlah cela-cela yang ada pada dirimu." Kuda itu kemudian menganggukkan kepala tiga kali karena senang aku telah meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa."

Rabu, 06 September 2017

Semangka yang Hambar



Alkisah, pada suatu hari Syaikh Imam Syaqiq al-Balkhi membeli buah semangka untuk istrinya. Saat disantapnya ternyata buah semangka tersebut terasa hambar. Sang istri pun marah.

Syaikh Imam Syaqiq menanggapi dengan tenang amarah istrinya itu. Setelah selesai didengarkan amarahnya itu, beliau bertanya dengan halus:

"Kepada siapakah kau marah wahai istriku? Kepada pedagang buahnyakah? Atau kepada pembelinya? Atau kepada petani yang menanamnya? Ataukah kepada yang menciptakan buah semangka itu?", tanya Syaikh Syaqiq.

Istri beliau terdiam, sembari tersenyum Syaikh Syaqiq melanjutkan perkataannya:

"Seorang pedagang tidak menjual sesuatu kecuali yang terbaik, seorang pembeli pun pasti membeli sesuatu yang terbaik pula, begitu pula seorang petani, tentu saja ia pasti akan merawat tanamannya agar bisa menghasilkan yang terbaik, maka sasaran kemarahanmu berikutnya yang tersisa tidak lain hanya kepada yang menciptakan semangka itu".

Pertanyaan Imam Syaqiq menembus ke dalam hati sanubari istrinya. Terlihat butiran air mata menetes perlahan di kedua pelupuk matanya.

Syaikh Imam Syaqiq al-Balkhi pun melanjutkan ucapannya:

"Bertaqwalah wahai istriku, terimalah apa yang sudah menjadi ketetapanNya, agar Allah memberikan keberkahan kepada kita".

Mendengar nasehat suaminya itu, sang istri pun sadar, menunduk dan menangis mengakui kesalahannya dan ridha dengan apa yang telah Allah tetapkan.

Kisah Burung Hud-hud dan Nabi Ibrahim


Alkisah ketika Nabi Ibrahim dibakar atas perintah raja Namrud, terlihat seekor burung Hud Hud yang sibuk terbang kesana kemari mencari air. Ketika dia menemukan sumber air, dengan paruhnya yang kecil, dia membawa air dan menyiramkan keatas api yang berkobar membakar Nabi Ibrahim.

Burung lain heran dan mempertanyakan bagaimana mungkin air itu mampu memadamkan api tersebut?

Burung Hud Hud menjawab "aku tahu air ini takkan mampu memadamkan api yang membakar Ibrahim, tapi aku tak peduli. Yang penting aku telah berusaha sekuat tenaga menolong orang yang kucintai".

"Air ini juga nanti akan bersaksi di hadapan Tuhan bahwa aku telah berbuat semaksimal mungkin untuk memadamkan api tersebut".

Burung yang lain hanya bisa terdiam mendengar jawaban burung Hud Hud yang tidak disangka itu.

Petani Yang Shalih


Dikisahkan dari sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallahu anhu dari Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), "Siramilah kebun si fulan!" maka awan itu menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam.

Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran di tempat itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya.

Kemudian dia bertanya, "Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?" dia menjawab, "Fulan", sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, "Mengapa anda menanyakan namaku?" 

Dia menjawab, "Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan Siramilah kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?"

Fulan menjawab, "Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan, sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali)". HR. Muslim

Dalam riwayat lain disebutkan: Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).

Selasa, 05 September 2017

Kisah Pencuri dan Ahli Ibadah


Di zaman Nabi Musa a.s. ada seorang hamba Allah yang kerjanya mencuri. Sudah 40 tahun dia mencuri. Suatu hari, dia melihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Katanya, “Kalau aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada barokahnya untuk aku.”

Tetapi setelah difikirkannya lagi, dia tidak jadi melangsungkan niatnya itu. Dia berkata, “Aku ini pencuri. apa pantas pencuri seperti aku ini berjalan bersama seorang nabi”. Tak lama kemudian, dia melihat seorang abid berlari-lari kecil mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Si abid ini telah beribadah secara istiqamah selama 40 tahun dan dikenali orang. Si pencuri itu berkata di dalam hatinya, “Lebih baik aku berjalan bersama si abid ini saja. Barang kali bisa mendapat kebaikan dekat dengan dia”.

Lantas si pencuri menghampiri si abid dan meminta  untuk berjalan bersamanya. Tapi ketika tampak si pencuri, si abid terkejut dan terus merasa takut. Dia berkata di dalam hatinya, “Celaka aku! Kalau si pencuri ini berjalan bersama aku, takut-takut nanti rusak segala kebaikan dan amalanku”.

Si abid terus berlari supaya si pencuri tidak dapat mengikuti. Si pencuri tadi terus mengikuti si abid karena hendak berjalan bersamanya. Akhirnya sampailah mereka berdua kepada Nabi Musa a.s.

Nabi Musa a.s. kemudian berpaling dan bersabda kepada mereka berdua, “Aku baru saja mendapat wahyu dari Allah Ta'ala supaya memberitahukan kepada kalian berdua bahwa segala amalan baik dan buruk kalian telah dimansukhkan oleh Allah”.

Maka terkejutlah si abid dan si pencuri tadi. Berbahagialah si pencuri karena segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah diampunkan oleh Allah. Celaka dan dukacitalah si abid karena segala amalan dan ibadahnya selama 40 tahun telah ditolak dan tidak diterima oleh Allah.

Rupa-rupanya si pencuri itu, walaupun kerjanya mencuri, dia tidak suka akan perbuatannya itu. Dia miskin dan tanggungannya banyak. Masyarakat ketika itu sudah rusak dan orang kaya enggan membantu fakir miskin. Dia mencuri karena terpaksa. Oleh sebab itu, setiap kali dia mencuri, dia amat merasa bersalah dan berdosa. Jiwanya tersiksa dan menderita. Selama 40 tahun dia menanggung rasa berdosa itu dan selama itu juga jiwanya parah menanggung derita. Selama 40 tahun hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan.

Si abid pula, amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya. Dia yakin ibadahnya akan dapat membeli Syurga. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah baik. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun si abid ini mendidik hatinya supaya merasa lebih baik dan lebih mulia setiap kali dia beribadah. Hingga dia merasa hebat dan mulia derajatnya, sehingga tidak mau berjalan bersama orang yang hina dan berdosa. Dia merasa hanya layak berjalan bersama para Nabi. Inilah akhirnya ketetapan Allah atas mereka berdua.

Senin, 04 September 2017

Isa dan Kalimat Rahasia


Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yang lain-lain, pada suatu hari Isa putra Maryam, berjalan-jalan di padang pasir dekat Baitulmakdis bersama-sama sekelompok orang yang masih suka mementingkan diri sendiri.

Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepada mereka Kalimat Rahasia yang telah dipergunakannya untuk menghidupkan orang mati. Isa berkata, “Kalau kukatakan itu pada kalian, pasti  kalian menyalah gunakannya.”

Mereka berkata, “Kami sudah siap dan sesuai untuk pengetahuan semacam itu, tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami.”

“Kalian tak memahami apa yang kalian minta,” katanya, tetapi akhirnya diberitahukannya juga Kalimat Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih, “Mari kita uji keampuhan Kalimat itu,” kata mereka, dan diucapkanlah Kalimat Rahasia itu.

Begitu Kalimat diucapkan, tulang-tulang itu pun segera terbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging.

Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti, sedangkan mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.

Minggu, 03 September 2017

Kepala Ikan Sang Nelayan


Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya. Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.

Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.

Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.

Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.

Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, “Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia.”

Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu,” tanya nelayan itu, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”

Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri.

Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah keheranan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.

“Dia benar,” jawab sang nelayan, “ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.

Sabtu, 02 September 2017

Barokah Hajinya Tukang Sol Sepatu


Setelah sempurna menunaikan ritual ibadah haji, Abdullah bin Mubarak (Ibnu Mubarak) istirahat di dalam Masjidil Haram dan tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit.

Satu malaikat bertanya, "Berapakah jumlah jamaah haji pada tahun ini?"

"600.000 jamaah", jawab malaikat yang satunya. 

"Berapakah yang hajinya diterima (mabrur)?", tanyanya lagi.

Tak ada satupun yang diterima hajinya kecuali hanya seorang tukang sol sepatu di kota Damaskus, bernama Muwaffiq. Ia memang belum berhaji, namun sudah mabrur. Sehingga, seluruh jamaah haji pada tahun ini diterima hajinya berkat diterimanya haji Muwaffiq itu", jawab malaikat yang satunya itu.

Ibnu Mubarak terperanjat dan bangun. Ia langsung berkemas-kemas dan langsung pergi ke kota Damaskus, mencari seseorang yang bernama Muwaffiq. 

Setelah ketemu dan sampai di rumahnya, Ibnul Mubarak langsung bertanya padanya, "Apakah tuan yang bernama Muwaffiq?"

Lelaki itu menjawab, "Benar".

"Amal baik apakah yang telah kau lakukan sehingga meraih kemuliaan seperti itu?", tanya Ibnu Mubarak sembari menceritakan kisah mimpi yang dialaminya. 

Muwaffiq pun bercerita, "Semula saya telah berniat untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Namun keadaan tak memungkinkan. Akhirnya, saya mengumpulkan uang hingga mencapai jumlah 300 dirham dari hasil menambal sepatu. Maka, saya pun berniat menunaikan ibadah haji pada tahun ini juga".

"Pada suatu saat, istriku yang hamil muda mencium aroma masakan dari tetanggaku dan sangat ngidam sekali. Maka, saya pun pergi ke rumah tetanggaku itu. Sesampai di rumahnya, keluarlah seorang wanita dan saya pun mengutarakan maksud keperluanku padanya".

"Wanita itu pun berkata, "Baiklah! Terpaksa saya ceritakan rahasiaku ini. Sebenarnya, aku memiliki tanggungan anak-anak yatim yang sudah tiga hari ini belum makan. Maka, aku pun keluar untuk mencari makanan buat mereka. Di tengah jalan, aku menemukan bangkai keledai, maka kupungut dan kupotong sebagian dagingnya untuk dimasak. Makanan ini halal bagi kami, namun haram bagi tuan".

"Mendengar pengakuan wanita itu, saya pun kembali ke rumah dan mengambil uang 300 dirham itu lalu menyerahkannya kepada tetanggaku tadi. Saya katakan padanya, 'terimalah dan belanjakanlah uang ini untuk kebutuhan anak-anak yatim yang menjadi tanggunganmu itu'. Dalam hati saya bergumam, 'Ya Allah! Hajiku hanya sampai di depan pintu rumah tetanggaku ini. Sampai kapankah aku bisa berhaji?". Demikianlah cerita Muwaffiq kepada Ibnu Mubarak.

Rabu, 30 Agustus 2017

Hikayat Hang Tuah


Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang Tuah, anak Hang Mahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat itu, semua orang di Sungai Duyung mendengar kabar tentang Raja Bintan yang baik dan sopan kepada semua rakyatnya. 

Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu, ”Ayo kita pergi ke Bintan, negeri yang besar itu, apalagi kita ini orang yang miskin, lebih baik kita pergi ke Bintan agar lebih mudah mencari pekerjaan.” Lalu pada malam harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit, cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Hang Mahmud pun terbangun dan mengangkat anaknya serta menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi-wangian. 

Siang harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya. Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu pun langsung memandikan dan melulurkan anaknya. Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain, baju, dan ikat kepala serba putih. Lalu Dang Merdu memberi makan Hang Tuah nasi kunyit dan telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan selamatan untuk Hang Tuah. Setelah selesai dipeluknyalah anaknya itu. Lalu kata Hang Mahmud kepada istrinya, ”Adapun anak kita ini kita jaga baik-baik, jangan diberi main jauh-jauh.” 

Keesokan harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk persediaan. Lalu ada pemberontak yang datang ke tengah pasar, banyak orang yang mati dan luka-luka. Orang-orang pemilik toko meninggalkan tokonya dan melarikan diri ke kampung. Gemparlah negeri Bintan itu dan terjadi kekacauan dimana-mana. Ada seorang yang sedang melarikan diri berkata kepada Hang Tuah, ”Hai Hang Tuah, hendak matikah kau tidak mau masuk ke kampung.?” Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu, ”Negeri ini memiliki prajurit dan pegawai yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.” 

Waktu ia sedang berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang Tuah sambil menghunuskan kerisnya. Maka ibunya berteriak dari atas toko, katanya, ”Hai, anakku, cepat lari ke atas toko!” Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, iapun langsung bangkit berdiri dan memegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu. Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi. Maka Hang Tuah pun melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelahlah kepala orang itu dan mati. Maka kata seorang anak yang menyaksikannya, ”Dia akan menjadi perwira besar di tanah Melayu ini.” Terdengarlah berita itu oleh keempat kawannya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekui.

Mereka pun langsung berlari-lari mendapatkan Hang Tuah. Hang Jebat dan Hang Kesturi bertanya kepadanya, ”Apakah benar engkau membunuh pemberontak dengan kapak?” Hang Tuah pun tersenyum dan menjawab,” Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris, melainkan dengan kapak untuk kayu.”

Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri adanya sang Hang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil oleh Sang Raja. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang juga iri hati kepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke hadapan Sang Raja. Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya bersama para bawahannya, Tumenggung dan segala pegawai-pegawainya datang berlutut, lalu menyembah Sang Raja, 

“Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, ada banyak berita tentang penghianatan yang sampai kepada saya. Berita-berita itu sudah lama saya dengar dari para pegawai-pegawai saya.” 

Setelah Sang Baginda mendengar hal itu, maka Raja pun terkejut lalu bertanya, “Hai kalian semua, apa saja yang telah kalian ketahui?” 

Maka seluruh menteri-menteri itu menjawab, “Hormat tuanku, pegawai saya yang hina tidak berani datang, tetapi dia yang berkuasa itulah yang melakukan hal ini.” 

Maka Baginda bertitah, “Hai Tumenggung, katakan saja, kita akan membalasnya.” 

Maka Tumenggung menjawab, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, untuk datang saja hamba takut, karena yang melakukan hal itu, tuan sangat menyukainya. Baiklah kalau tuan percaya pada perkataan saya, karena jika tidak, alangkah buruknya nama baik hamba, seolah-olah menjelek-jelekkan orang itu. 

Setelah Baginda mendengar kata-kata Tumenggung yang sedemikian itu, maka Baginda bertitah, “Siapakah orang itu, Sang Hang Tuah kah?” 

Maka Tumenggung menjawab, “Siapa lagi yang berani melakukannya selain Hang Tuah itu. Saat pegawai-pegawai hamba memberitahukan hal ini pada hamba, hamba sendiri juga tidak percaya, lalu hamba melihat Sang Tuah sedang berbicara dengan seorang perempuan di istana tuan ini. Perempuan tersebut bernama Dang Setia. Hamba takut ia melakukan sesuatu pada perempuan itu, maka hamba dengan dikawal datang untuk mengawasi mereka.” 

Setelah Baginda mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna merah padam. Lalu ia bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu, “Pergilah, singkirkanlah si durhaka itu!” 

Maka Hang Tuah pun tidak pernah terdengar lagi di dalam negeri itu, tetapi si Tuah tidak mati, karena si Tuah itu perwira besar, apalagi dia menjadi wali Allah. Kabarnya sekarang ini Hang Tuah berada di puncak hulu Sungai Perak, di sana ia duduk menjadi raja segala Batak dan orang hutan. Sekarang pun raja ingin bertemu dengan seseorang, lalu ditanyainya orang itu dan ia berkata, “Tidakkah tuan ingin mempunyai istri?” Lalu jawabnya, “Saya tidak ingin mempunyai istri lagi.” Demikianlah cerita Hikayat Hang Tuah.

40 Kendi Tembikar Nabi Nuh AS

Kendi
ilustrasi

Suatu ketika setelah banjir surut, Nabi Nuh beserta penghuni bahtera diselamatkan dari banjir besar, Allah berfirman kepada Nabi Nuh, “Wahai hamba-Ku, sekarang Aku perintahkan engkau untuk membuat 40 buah kendi tembikar yang elok untuk Ku.“

Nabi Nuh segera pergi untuk memenuhi perintah itu dengan mengumpulkan tanah liat yang paling bagus yang bisa didapat dan menghabiskan siang malam untuk berkerja dengan penuh perhatian, mencurahkan segala daya, upaya dan cinta untuk membuat 40 kendi tembikar yang cantik untuk Allah.

Setelah Nabi Nuh selesai membuat 40 kendi tembikar itu dengan penuh kecintaan, lalu Allah berfirman kepada Nabi Nuh, “Wahai hamba-aku, sekarang engkau telah membuat 40 buah kendi, keluarlah dan ambil satu persatu kendi itu lalu pecahkan kendi itu ke atas batu.“

Meskipun dengan berat hati namun tiada pilihan kecuali mentaati perintah Allah. Nabi Nuh segera mengambil kendi-kendi itu yang mana beliau telah menghabiskan banyak daya, upaya dan cinta dalam membuatnya. Satu demi satu kendi itu pun dipecahkan ke atas batu.

Lalu Allah berfirman kepada Nabi Nuh, “Wahai Nuh, engkau telah membuat 40 buah kendi tembikar dan ada benci bagi engkau untuk memecahkannya. Seperti itulah Aku, adakah engkau mengira suatu kesenangan bagi Ku membunuh semua hambaKu, walaupun mereka bukan orang yang beriman?”

Nabi Nuh pun sejenak tersadar, dan mulai menangis dan merapi atas semua kejadian dan mengambil hikmah yang telah terjadi. Hingga tangisannya itu dikenal dengan “Nuh” yang bermakna “meratap” dalam bahasa Arab.

Tetangga yang Baik

Rumah sufi bocor

Diriwayatkan dari Sahal bin Abdillah rahimahullah, bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang merupakan orang dzimmiy (orang non-muslim yang tinggal di wilayah Islam, memiliki hak keamanan harta dan jiwa dengan membayar jizyah). Dan dari rumah orang dzimmiy itu ada kebocoran yang menimbulkan tetesan air ke rumah Sahal.

Setiap hari Sahal menampung air bocoran itu di dalam suatu wadah agar tidak menyebar di rumahnya. Jika telah penuh Sahal membuangnya pada malam hari agar tidak dilihat oleh orang. Keadaan itu terus berlangsung lama sampai ketika ajal sudah mendatangi Sahal.

Lalu tetangganya yang dzimiiy Majusi itu datang menjenguknya ketika ia sedang sakit menjelang meninggalnya. Sahal menyuruhnya masuk ke sebuah ruangan di rumahnya agar tetangganya itu melihat apa yang terjadi di dalamnya. Begitu Majusi itu masuk, ia langsung melihat adanya kebocoran dari rumahnya dan airnya menetes ke rumah Sahal. Ia paham, hal ini tentu saja mengganggu Sahal. Ia kemudian bertanya, “Apa sebenarnya yang kulihat ini?”

Sahal berkata, “Hal ini sudah berlangsung lama, air menetes dari rumahmu ke rumahku ini. Dan saya menampungnya di siang hari, kemudian membuangnya pada malam hari. Kalaulah bukan karena ajalku telah tiba, dan aku takut orang lain tidak sanggup menerima keadaan ini, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepadamu. Makanya aku melakukan hal telah kau lihat ini.”

Orang Majusi itu berkata: “Wahai Syekh! Engkau telah memperlakukan aku dengan toleransi tinggi seperti ini, sedangkan saya tetap saja memegang kekufuranku. Tolong julurkanlah tangan anda, inilah saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah). Setelah itu Sahal kemudian meninggal.

Selasa, 29 Agustus 2017

Pemberi Yang Hidup Sederhana

Dikisahkan bahwasanya di antara kebiasaan Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Madinah adalah membuka lebar pintu rumahnya layaknya dapur umum. Seperti dapur umum, pagi, siang, malam rumah itu menghidangkan makanan untuk semua orang yang berdatangan.

Di zaman itu di Madinah belum ada tempat penginapan atau hotel. Tiap hari, Hasan menyembelih onta kecil untuk dihidangkan ke para peziarah Madinah atau orang-orang miskin pada umumnya.

Suatu hari, ada orang Arab Badui (dusun) yang datang dan makan dirumahnya. Sehabis makan, ia tidak langsung pulang, melainkan duduk dan membungkus beberapa makanan ke dalam tas. Melihat keanehan itu, Hasan datang menyapa,

“Kenapa kau mesti membungkusnya? Lebih baik kau datang makan tiap pagi, siang dan malam di sini. Biar makananmu lebih segar,” kata Hasan.

“Oh, ini bukan untukku pribadi, tapi untuk orang tua yang kutemui di pinggir kota tadi. Orang itu duduk di pinggir kebun kurma dengan wajah lesuh dan memakan roti keras. Dia hanya membahasahi roti itu dengan sedikit air bergaram dan memakannya. Aku membungkus makanan ini untuknya, biar dia senang.,” jawab orang Badui.

Mendengar itu, Hasan kemudian menangis tersedu-sedu. Badui itu heran dan bertanya,

“Kenapa Tuan menangis? Bukankah tak ada yang salah jika aku kasihan dengan lelaki miskin yang di pinggiran kota itu?”

Dijawab oleh Hasan, sembari tersedu,

“Ketahuilah, saudaraku. Lelaki miskin yang kau jumpai itu, yang makan roti keras dengan sedikit air bergaram itu, dia adalah ayahku: Ali bin Abi Thalib. Kerja kerasnya di ladang kurma itulah yang membuatku bisa menjamu semua orang setiap hari di rumah ini.”

Kisah Pengemis Yahudi Buta

  Dalam suatu riwayat, Abu Bakar As Shiddiq yang merupakan Sahabat terbaik sekaligus Mertua dari Rasulullah SAW, bertanya kepada anak yang dikasihinya, Siti Aisyah RHA, “Wahai putriku sayang, adakah Sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang kau tahu aku belum kerjakan?

  Mendengar pertanyaan tersebut, Aisyah RHA dengan lembutnya menjawab: “Tidak ada ayah, semuanya sudah ayah kerjakan, kecuali satu”

  Apa itu sayang…? Tanya Abu Bakar penasaran. Kemudian Aisyah RHA melanjutkan jawabannya, “Di sudut pasar ada seorang pengemis buta, orang Yahudi, Rasulullah SAW senantiasa datang kepadanya memberi makan.

  Mendengar jawaban tersebut, Abu Bakar akhirnya terkejut sembari menjawab “Masya Allah, aku akan segera ke sana”

  Maka Abu Bakar RA pun langsung menyiapkan makanan secukupnya untuk kemudian menemui pengemis buta tersebut yang sedang berada di sudut pasar. Sembari menuju kesana, beliau berusaha untuk tidak bersuara agar pengemis itu tidak merasa asing.

  Ketika hendak disuap oleh Abu Bakar, pengemis tersebut langsung melepeh makanannya, marah dan membentak:

 “Hei… Siapa kau?!”

  Abu Bakar yang terkaget – kaget dengan sikap si pengemis tua tersebut berusaha untuk bersikap tenang meskipun disambut dengan bentakan yang sangat keras.

  Tak lama kemudian, Abu Bakar akhirnya menjawab “Aku ini, orang yang biasa menyuapimu”

 “Akh.., bohong…” Jawab pengemis tua tersebut tidak percaya.

 “Pasti kau bohong… Katakan siapa dirimu!” Tegas pengemis tersebut untuk memastikan siapa orang asing yang tiba-tiba menyuapinya tersebut.

  Mendengar bentakan tersebut, Abu Bakar RA tiba - tiba terisak menangis. Namun, beliau berusaha semampunya agak tangisannya tersebut tidak diketahui oleh si pengemis tua tersebut.
Abu Bakar menangis bukan karena bentakan tersebut. Beliau menangis karena membayangkan, bagaimana sabarnya Rasulullah SAW berkhidmat kepada seorang pengemis buta Yahudi yang sangat pemarah itu.

  “Hei, ketahuilah wahai orang asing, bahwa orang yang biasa nyuapin aku, sentuhan tangannya sangat lembut, aromanya sangat wangi, bahkan dia mengunyahkan sebelum menyuap” Jawab pengemis itu menceritakan orang yang biasa menyuapinya. Sehingga dia begitu mengenali bagaimana lembutnya Rasulullah SAW saat menyuapinya dulu.

 “Kamu pasti orang lain, aku tahu… Ini makanannya kasar dan berat” Lanjut si pengemis tua tersebut.

  Abu Bakar As Shiddiq yang terkenal dengan hatinya yang lemah lembut, yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan lembut untuk si pengemis tua itu pun bahkan tidak sanggup untuk menyaingi bagaimana lembutnya Rasulullah SAW kala menyuapi pengemis tua tersebut, tetap saja, si pengemis tua itu marah saat diperlakukan berbeda dan lebih kasar.

  Abu Bakar As Shiddiq yang tak mampu menahan diri, akhirnya bertanya “Bagaimana halusnyakah perlakuan Rasulullah SAW…?” tanya Abu Bakar sambil menahan isak tangisnya yang tak tertahankan lagi.

 “Hei, kau menangis ya, kenapa kau menangis?” Tanya pengemis itu keheranan.

 “Wahai Saudaraku, engkau benar… aku bukan orang yang biasa…. Aku datang menggantikan beliau karena beliau telah wafat” Jawab Abu Bakar mengenalkan dirinya kepada pengemis tua itu.

 “Oo, begitu ya…. Baiklah, saya terima makananmu, tapi saya nasihati kamu sebuah perkara penting….” Jawab si pengemis.

 “Apakah itu…?!” Tanya Abu Bakar.

 “Kamu sudah denger kan ada orang yang ngaku telah jadi Nabi, memecah belah persatuan, suka mencari maki nenek moyang kita, jangan sampai kau jumpa dia, jangan sampai kau ikut dia, dia orang berbahaya…” Ujar pengemis tua tersebut menjelaskan orang yang dimaksudnya, yang tak lain adalah Rasulullah SAW itu sendiri yang selama ini menyuapinya dengan lembut.

  Abu Bakar RA yang mendengar penjelasan si pengemis tersebut semakin deras isak tangisnya… Tapi hiruk pikuk orang pasar tak ada yg saling peduli. Pengemis buta itu kemudian meraba-raba berusaha menggapai pundak Abu Bakar RA, sambil berkata “Tenang, dengarlah nasihatku, ikutilah nasihatku”.

 “Iya Saudaraku, tapi orang yang aku gantikan ini adalah orang yang biasa menyuapi engkau”. “Dialah yang mengunyahkan makanan sebelum menyuapimu”, Jawab Abu Bakar menjelaskan orang yang tadinya sedang dicaci maki oleh pengemis tua tersebut.

  Dengan kagetnya si pengemis tua itu menjawab, “Haah… aaakkh… jadi diakah orang yang selalu menyuapi aku dengan tangannya yang lembut…?” 

 “Diakah orang yang selalu aku caci maki padahal hanya dia yang peduli kepadaku….?”

 “Diakah yang selalu aku larang orang mendengar bicaranya padahal hanya dia yang mau mendengar bicaraku….?”

 “Ooh.. diakah.. Oh… diakah….”

 “Jadi kau ini siapa?” Tanya si pengemis tua itu sambil terkaget-kaget akibat ucapan Abu Bakar tadi.

 “Aku adalah Abu Bakar’, jawab Abu Bakar.

  Dengan perasaan bersalah dan menangis, si pengemis tua itu menjawab, “Duhai, Abu Bakar… hiks… hiks… Dia orang yang akhlaknya sangat mulia”. “Aku tak pernah mendengar satu kata pun dari mulut nya karena aku senantiasa melarang orang mendengar kata-katanya”, Cerita si pengemis tua tersebut.

 “Wahai Abu Bakar…”

 “Iya, Saudaraku…” Jawab Abu Bakar.

 “Tolonglah aku… Tolong aku… Aku mau jadi pengikut dia sekarang juga” 

 “Dia adalah orang yang benar… Dialah orang yang berakhlak mulia”

 “Tolong aku….”, Pinta si pengemis itu dengan hati penuh penyesalan dan meronta – ronta.


Nenek Si Pemungut Daun

Daun gugur

Alkisah di sebuah kota di Pulau Madura, tersebutlah seorang nenek yang kesehariannya bekerja sebagai penjual bunga cempaka di sebuah pasar.

Seperti kebiasaan setiap harinya usai berjualan, sang nenek selalu menyempatkan diri mampir ke Masjid Agung yang terdapat di kota itu dengan berjalan kaki walau jaraknya cukup jauh.

Ia kemudian berwudhu, masuk ke Masjid, dan melakukan shalat dhuhur. Setelah berdzikir dan berdoa sekedarnya, ia segera keluar dari Masjid dan membungkuk-bungkukkan badannya di halaman Masjid. Untuk apa? Si nenek dengan sabarnya memunguti serta mengumpulkan daun-daun yang berserakan di halaman Masjid tersebut.

Selembar demi lembaran daun dikaisnya. Tak satu lembar daun pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama sang nenek membersihkan halaman Masjid dengan cara seperti itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh panas menyengat, hingga keringat pun jadi membasahi sekujur tubuhnya.

Banyak jemaah Masjid yang jatuh iba kepadanya. Sehingga suatu hari Ta'mir Masjid memutuskan untuk membersihkan sendiri dedaunan itu sebelum si nenek tersebut datang.

Pada suatu hari, seperti biasanya sang nenek datang dan langsung masuk Masjid, berwudhu' dan dilanjutkan Shalat. Usai shalat, ketika ia hendak melakukan kebiasaan rutinnya, betapa terkejutnya ia. Sebab tak ada satu lembarpun daun yang berserakan disana. Ia kembali lagi ke Masjid dan menangis dengan sesenggukan di hadapan jamaah. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah dibersihkan sebelum kedatangannya.

Para jemaah mencoba menjelaskan bahwa mereka merasa kasihan kepadanya sehingga mereka mendahului membersihkan sebelum kedatangan si nenek.

"Jika kalian kasihan kepada saya, berikan kesempatan kepada saya untuk membersihkannya! Biarkan saya yang akan membersihkan" pinta nenek tersebut.

Singkat cerita, akhirnya sang nenek dibiarkan mengumpulkan dan membersihkan dedaunan itu seperti biasanya.

Karena orang-orang pada penasaran dengan kelakuan nenek tersebut, maka salah seorang kyai diminta untuk menanyakan kepada si nenek tersebut mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.

Maka bertanyalah sang Kyai. Akan tetapi, perempuan tua itu hanya mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat, pertama, hanya Kyai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

(Sekarang sang nenek telah meninggal dunia dan kita dapat mendengarkan rahasia tersebut). Setelah sang Kyai berjanji, maka berkatalah si nenek:

"Saya ini perempuan bodoh, Pak Kyai." tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Yang saya tahu, saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat dan di akhirat tanpa mendapat syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya mengucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Memberi syafaat kepada saya. Biarlah semua dedaunan itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya." tambah nenek tua tersebut.

Sang kyai hanya mampu tertegun mendengarkan cerita nenek tersebut. Seakan tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.

Perempuan tua yang hanya dari sebuah kampung itu, tidak saja telah mengamalkan dan mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah SAW dalam bentuknya yang tulus. Ia juga telah menunjukkan sifat kerendahan hati (tawadhdhu’) di hadapan manusia, dan tadharru’ (kerendahan diri ke Hadirat Tuhannya), serta pengakuan akan keterbatasan amal dihadapan Allah SWT.

Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, yang amat luhur. Ia sadar bahwa dia tidak dapat hanya mengandalkan amalannya untuk dapat selamat di Akhirat kelak. Dia sangat bergantung pada Rahmat Allah SWT. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat di semesta alam ini selain Rasulullah SAW? Sehingga syafaat dari Rasulullah itulah yang sangat dia harapkan.




Kisah ini dikutip dari kaskus dan dituturkan oleh salah satu Kyai di Madura, Bapak Zawawi Imron (Dikenal juga sebagai Penyair yang banyak dekat dengan Ulama').

Mencuri Uang Anak Sendiri

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW untuk mengadukan ayahnya yang menghabiskan uang miliknya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya.

Rasulullah SAW memanggil ayah orang itu ke hadapan beliau. Ketika lelaki jompo itu datang dengan tertatih-tatih bersandar pada tongkatnya, Rasulullah SAW bertanya: 

“Betulkah kamu telah mengambil uang anakmu tanpa seizinnya ?”

“Wahai Nabi Allah,” lelaki itu menangis, “ketika aku kuat & anakku lemah, ketika aku kaya & dia miskin, aku tidak membelanjakan uangku kecuali untuk memberi makan dia, bahkan terkadang aku membiarkan diriku kelaparan asalkan dia bisa makan." 

"Sekarang aku telah tua & lemah, sementara anakku tumbuh kuat. Aku telah jatuh miskin sementara anakku menjadi kaya. Dia mulai menyembunyikan uangnya dariku"

"Dahulu aku menyediakan makan untuknya tapi sekarang dia hanya menyiapkan makan untuk dirinya. Aku tak pernah seperti dia memperlakukan aku." 

"Jika saja aku masih sekuat dulu, aku masih akan merelakan uangku untuk dia."

Ketika mendengar hal ini, air mata Rasulullah SAW jatuh berlinang seperti untaian mutiara menimpa janggutnya yang suci. 

“Baiklah,” maka Rasulullah SAW bersabda, “Habiskan seluruh uang anakmu sekehendak hatimu. Uang itu milikmu…”

Anta wa maaluka li abika ( al hadits ).. 
Engkau & seluruh hartamu adalah kepunyaan kedua orangtuamu.